Rabu, 28 Juni 2017

Pengobatan Diabetes Tipe 1


Diabetes tidak bisa disembuhkan. Pengobatan diabetes bertujuan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darah dan mengendalikan gejala untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.

Langkah Pengobatan dengan Insulin

Organ pankreas dalam tubuh penderita diabetes tipe 1 tidak mampu memproduksi insulin sehingga penderita harus menerima suplai insulin tiap hari. Ada beberapa jenis insulin yang bisa digunakan. Di antaranya:
  • Insulin kerja cepat yang efeknya tidak bertahan lama, tapi bereaksi cepat.
  • Insulin kerja singkat yang efeknya dapat bertahan maksimal delapan jam.
  • Insulin kerja panjang yang efeknya dapat bertahan maksimal sehari.
Pengobatan untuk penderita diabetes mungkin menggunakan kombinasi dari jenis-jenis insulin di atas.
Insulin lewat suntikan
Cara pemberian insulin yang paling umum adalah lewat suntikan. Cara ini dipilih karena jika diminum dalam bentuk tablet, insulin akan dicerna dalam perut seperti makanan dan tidak bisa masuk ke dalam darah.
Pada tahap awal pemakaian, dokter biasanya akan membantu Anda untuk menyuntikkan insulin. Lalu Anda akan diajari cara menyuntik dan menyimpan insulin serta membuang jarum dengan aman.
Ada dua metode yang biasanya digunakan untuk memberikan suntikan insulin, yaitu lewat jarum dan alat suntik atau pena. Penderita diabetes umumnya membutuhkan dua hingga empat suntikan per hari.
Pompa Insulin
Alternatif lain untuk menyuntikkan insulin adalah dengan pompa insulin. Alat penampung insulin ini berukuran kecil. Selang kecil lengkap dengan jarum di ujungnya akan menghubungkan pompa ke tubuh Anda. Jarum tersebut umumnya dimasukkan ke tubuh lewat perut, tapi ada juga yang memasukkannya lewat pinggul, paha, bokong, atau lengan.
Pompa ini akan menyalurkan insulin ke aliran darah dengan takaran yang bisa diatur, sehingga Anda tidak perlu melakukan suntikan insulin lagi. Tetapi Anda tetap harus waspada dan memantau kadar gula darah dengan saksama untuk memastikan Anda menerima dosis insulin yang tepat.
Pompa insulin sangat praktis dan dapat digunakan oleh semua penderita diabetes tipe 1, terutama yang sering mengalami kadar gula rendah. Alat ini juga belum digunakan secara luas di Indonesia karena harganya yang mahal.

Pemantauan Kadar Gula Darah 

Menjaga kadar gula darah agar tetap seimbang

Tujuan utama dari pengobatan diabetes adalah menjaga keseimbangan glukosa darah. Anda bisa melakukannya dengan pengobatan insulin dan pola makan sehat, tetapi untuk memastikan kadar gula darah yang normal, Anda membutuhkan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin.
Beberapa faktor yang bisa memengaruhi kadar gula darah Anda adalah:
  • Stres.
  • Frekuensi dan intensitas olahraga.
  • Penyakit lain seperti pilek atau batuk.
  • Mengonsumsi obat lain.
  • Konsumsi minuman beralkohol.
  • Perubahan jumlah hormon selama menstruasi.
Pemeriksaan kadar gula darah sendiri dapat dilakukan lewat tes darah sederhana dengan tusukan kecil di jari. Tes ini umumnya dianjurkan bagi para penderita diabetes. Anda mungkin perlu melakukannya sebanyak empat kali atau lebih dalam sehari. Tipe pengobatan insulin yang Anda jalani akan memengaruhi frekuensi tes yang dibutuhkan. Dokter juga akan menjelaskan tentang kadar gula darah yang ideal.
Milligrams/deciliter (mg/dL) adalah satuan untuk kadar gula darah yang digunakan secara umum di Indonesia. Karena itu, Anda sebaiknya berhati-hati, memastikan satuannya terlebih dulu saat membeli alat tes glukosa darah dan mengetahui nilai rujukannya .
Pemeriksaan kadar gula darah secara teratur
Selain pemantauan sendiri yang dilakukan tiap hari, Anda dianjurkan untuk menjalani tes HbA1c setiap 2-6 bulan sekali. Proses ini akan menunjukkan keseimbangan kadar gula darah Anda serta tingkat keefektifan jenis pengobatan yang Anda jalani.
Metode Penanganan HiperglikemiaKadar gula darah yang terlalu tinggi (hiperglikemia) dapat terjadi karena beberapa sebab, misalnya porsi makan yang terlalu banyak, kondisi kesehatan yang menurun, atau dosis insulin yang kurang. Penyesuaian pola makan atau dosis insulin akan dibutuhkan penderita diabetes yang mengalami hiperglikemia. Dokter juga dapat membantu Anda untuk menemukan penyesuaian terbaik.
Hiperglikemia yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius. Tubuh akan mengolah lemak dan otot sebagai sumber energi alternatif, serta meningkatkan kadar asam dalam darah (ketoasidosis diabetik).
Ketoasidosis diabetik sangat berbahaya dan dapat mengakibatkan penderita mengalami dehidrasi, muntah-muntah, kehilangan kesadaran, bahkan kematian. Karena itu, penderita diabetes yang mengalami hiperglikemia harus segera ditangani di rumah sakit. Penderita juga biasanya akan diberi infus untuk menambah cairan tubuh, seperti cairan saline dan potasium.

Metode Penanganan Hipoglikemia

Saat kadar gula darah Anda terlalu rendah, Anda akan mengalami hipoglikemia. Kondisi ini dapat terjadi pada semua penderita diabetes, tapi umumnya terjadi pada penderita diabetes tipe 1.Beberapa gejala untuk hipoglikemia ringan adalah lemas, gemetaran, dan lapar. Kondisi ini bisa diatasi dengan mengonsumsi makanan atau minuman manis, misalnya minuman bersoda (bukan yang jenis diet), gula, atau kismis. Glukosa murni dalam bentuk tablet atau cair juga bisa dikonsumsi untuk mengatasi hipoglikemia secara cepat.
Hipoglikemia berat akan mengakibatkan penderita diabetes merasa linglung, mengantuk, bahkan kehilangan kesadaran. Penderita diabetes yang mengalami kondisi ini harus diberi suntikan glukagon (hormon yang dapat meningkatkan kadar gula darah dengan cepat) langsung pada otot atau vena.
Kehilangan kesadaran akibat hipoglikemia berarti hipoglikemia kemungkinan bisa kambuh lagi beberapa jam kemudian. Karena itu, beristirahatlah dan pastikan ada yang menemani Anda.
Anda akan membutuhkan pertolongan medis secepatnya dan suntikan glukagon lagi jika tetap merasa mengantuk atau tidak siuman selama 10 menit setelah menerima suntikan glukagon pertama pada otot.

Penanganan dengan Transplantasi Islet

Transplantasi islet juga mungkin dapat menolong sebagian penderita diabetes tipe 1. Dalam proses ini, sel islet diperoleh dari donor yang sudah meninggal dan ditranplantasikan ke dalam pankreas penderita diabetes tipe 1. Sel islet adalah jenis sel pankreas yang menghasilkan insulin.

Penanganan dengan Transplantasi Pankreas

Transplantasi pankreas bisa mengembalikan kemampuan pengendalian glukosa tubuh, khususnya bagi pengidap diabetes tipe 1 dengan kondisi yang fluktuatif atau memiliki kadar gula darah yang tidak stabil. Namun, prosedur ini berisiko tinggi karena membutuhkan proses imunosupresi yang lebih berbahaya dibanding terapi penggantian insulin sehingga hanya dianjurkan beserta atau setelah transplantasi ginjal.

Obat-obatan Lain untuk Mengurangi Risiko Komplikasi

Penderita diabetes tipe 1 memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi, seperti penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal. Karena itu dokter mungkin akan menyarankan obat-obatan berikut untuk mengurangi risikonya, seperti:
  • Statin untuk mengurangi kadar kolestrol tinggi.
  • Obat penurun tekanan darah tinggi.
  • Obat-obatan ACE inhibitor, seperti enalapril, lisinopril, atau ramipril, jika ada indikasi penyakit ginjal diabetik. Perkembangan penyakit yang ditandai dengan adanya protein albumin dalam urine ini bisa dikendalikan jika segera ditangani.
  • Aspirin dosis rendah untuk mencegah stroke.
Di samping penanganan medis, menerapkan gaya hidup sehat juga dapat membantu dalam menangani diabetes tipe 1. Contohnya dengan melakukan diet rendah karbohidrat, olahraga yang cukup, serta menghindari stres.

Komplikasi Diabetes Tipe 1


Diabetes Retinopati

Diabetes dapat menyebabkan kerusakan pembuluh darah pada retina (retinopati). Pembuluh darah tersebut bisa tersumbat, bocor, atau tumbuh secara acak sehingga menghalangi cahaya untuk mencapai retina. Komplikasi ini dapat mengakibatkan kebutaan jika dibiarkan.Memeriksakan mata Anda tiap tahun akan membantu pendeteksian dini retinopati sehingga dapat ditangani secepatnya.
Retinopati diabetik yang terdeteksi sejak dini dapat ditangani dengan operasi laser. Tetapi, prosedur ini hanya untuk mempertahankan daya penglihatan dan bukan menyembuhkan.

Diabetes Neuropati (Kerusakan Saraf)

Kelebihan glukosa darah dapat merusak pembuluh darah halus dan saraf. Hal ini dapat memicu sensasi kesemutan atau perih yang biasa berawal dari ujung jari tangan dan kaki, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Neuropati yang menyerang sistem pencernaan dapat menyebabkan mual, muntah, diare, atau konstipasi.Sesuatu yang biasa terlambat kita sadari, yaitu kerusakan pada saraf atau terhambatnya aliran darah pada kaki bisa meningkatkan risiko terjadinya komplikasi kesehatan kaki. Jika dibiarkan, luka serta goresan kecil pada kaki penderita diabetes dapat berkembang menjadi infeksi serius.
Penderita yang telah mengalami kerusakan saraf sebaiknya mengecek kondisi kakinya tiap hari. Apabila terjadi perubahan, konsultasikanlah dengan dokter. Pemeriksaan kondisi kaki oleh dokter juga dianjurkan setidaknya sekali dalam setahun. Komplikasi pada kaki yang harus Anda waspadai adalah:
  • Luka yang tidak kunjung sembuh.
  • Kulit yang terasa panas saat disentuh.

Penyakit Jantung serta Stroke

Penderita diabetes memiliki risiko lima kali lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung atau stroke. Kadar gula darah yang tidak seimbang dan dibiarkan cukup lama akan meningkatkan risiko atherosklerosis, yaitu penyempitan aliran pembuluh darah yang biasanya terjadi akibat akumulasi kolesterol. Komplikasi ini memiliki risiko-risiko berikut:Menghambat aliran darah ke jantung dan menyebabkan serangan angina (dikenal dengan istilah angin duduk). Serangan angina diindikasikan dengan adanya sakit dada yang terasa menekan.
Menyebabkan serangan jantung atau stroke karena meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah pada jantung atau otak.

Diabetes Nefropati (Kerusakan Ginjal)

Ginjal memiliki jutaan pembuluh darah halus yang menyaring limbah dari darah. Jika pembuluh darah halus tersebut tersumbat atau bocor, kinerja ginjal Anda akan menurun.Kerusakan parah pada ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal. Apabila mengalami gagal ginjal, Anda akan membutuhkan dialisis (cuci darah) atau bahkan transplantasi ginjal.

Disfungsi Seksual

Diabetes dapat merusak pembuluh darah halus serta saraf. Karena itu, para penderita diabetes pria (terutama yang merokok) dapat mengalami disfungsi ereksi. Gangguan ini biasanya dapat diatasi dengan obat-obatan.Sementara, penderita diabetes wanita juga berpotensi mengalami gangguan disfungsi seksual, seperti kepuasan seksual yang menurun, kurangnya gairah seks, gagal mencapai orgasme, rasa sakit saat berhubungan intim, serta vagina yang kering. Penanganan pada penderita diabetes wanita yang mengalami kekurangan cairan vagina atau merasa sakit saat berhubungan intim dapat menggunakan pelumas atau gel.

Keguguran dan Lahir Mati pada Janin

Penyakit ini dapat membahayakan sang ibu maupun janin. Risiko keguguran dan kelahiran mati akan meningkat apabila diabetes ibu hamil tidak ditangani dengan saksama. Kadar gula darah yang tidak dijaga dengan baik pada masa awal kehamilan sang ibu juga bisa mempertinggi risiko cacat lahir.Ibu hamil yang menderita diabetes dianjurkan untuk memeriksakan kondisi diabetesnya secara teratur ke rumah sakit atau klinik. Konsultasi rutin ini akan mempermudah dokter untuk memantau kadar gula darah sang ibu dan mengendalikan dosis insulin yang harus diberikan.

Komplikasi Diabetes Tipe 2


Kadar gula darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Diabetes termasuk penyakit kronis yang berkembang secara bertahap, hingga akhirnya bisa memicu sejumlah komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Berikut adalah sejumlah komplikasi yang umumnya dialami oleh penderita diabetes.
  • Penyakit kardiovaskular. Penderita diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung, stroke, aterosklerosis, dan tekanan darah tinggi.
  • Kerusakan saraf atau neuropati. Kadar gula darah yang berlebihan dapat merusak saraf dan pembuluh darah halus. Kondisi ini bisa menyebabkan munculnya sensasi kesemutan atau perih yang biasa berawal dari ujung jari tangan dan kaki, lalu menyebar ke bagian tubuh lain. Neuropati pada sistem pencernaan dapat memicu mual, muntah, diare, atau konstipasi.
  • Kerusakan pada organ kaki. Neuropati atau terhambatnya aliran darah pada kaki penderita diabetes berkemungkinan meningkatkan risiko komplikasi kesehatan kaki yang biasanya terlambat disadari. Sekitar 10 persen penderita diabetes mengalami infeksi serius akibat luka atau goresan kecil pada kaki. Gejala komplikasi kaki yang harus diwaspadai adalah pembengkakan, kulit yang terasa panas saat disentuh, serta luka yang tidak kunjung sembuh.
  • Kerusakan mata, khususnya retina. Retinopati muncul saat terjadi masalah pada pembuluh darah di retina yang dapat mengakibatkan kebutaan jika dibiarkan. Glaukoma dan katarak juga termasuk komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita diabetes.
  • Kerusakan ginjal. Ginjal memiliki jutaan pembuluh darah halus yang menyaring limbah dari darah. Jika pembuluh darah halus tersebut tersumbat atau bocor, kinerja ginjal Anda bisa menurun. Kerusakan parah pada ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal yang membutuhkan dialisis (proses cuci darah) atau bahkan transplantasi ginjal.
  • Disfungsi seksual. Kerusakan pembuluh darah halus serta saraf pada para penderita diabetes pria (terutama perokok) dapat mengakibatkan disfungsi ereksi. Pada penderita diabetes wanita, komplikasi ini mungkin berupa kepuasan seksual yang menurun, kurangnya gairah seks, vagina yang kering, atau gagal mencapai orgasme.
  • Gangguan kulit. Diabetes akan membuat penderitanya rentan terkena penyakit kulit seperti infeksi jamur maupun bakteri.
  • Keguguran atau kelahiran mati. Kadar gula darah yang tinggi dapat membahayakan sang ibu dan janin. Risiko keguguran dan kelahiran mati akan meningkat jika diabetes gestasional tidak segera ditangani. Kadar gula darah yang tidak terjaga pada awal kehamilan juga bisa mempertinggi risiko cacat lahir. Ibu hamil yang menderita diabetes dianjurkan untuk memantau kadar gula darahnya secara teratur.

Jenis-Jenis Diabetes dan Cara Mengatasinya


Diabetes terbagi menjadi dua jenis :
1. Tipe I atau insulin dependent diabetes
Sekitar 10% orang yang mengidap diabetes memiliki diabetes Tipe I atau diabetes yang bergantung pada insulin. Tubuh mereka tidak memproduksi insulin dan karenanya suntikan insulin secara teratur dibutuhkan untuk memelihara gula darah yang normal.
2. Tipe II atau non-insulin dependent diabetes
Sekitar 85% orang yang mengidap diabetes memiliki diabetes Tipe II atau diabetes yang tidak bergantung pada insulin. Tubuh mereka memproduksi sejumlah insulin, tetapi itu tidak mencukupi atau cacat.
Beberapa perbedaan utama antara diabetes Tipe I dan Tipe II seperti dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Jenis-jenis Diabetes Lainnya :
a. Diabetes yang berkaitan dengan kekurangan gizi
Diabetes di kalangan kaum muda dengan kekurangan gizi yang parah dan kelaparan disebut sebagai diabetes yang terkait dengan malnutrisi. Walaupun kondisi ini mengakibatkan tingginya gula darah, beberapa komplikasi yang berasosiasi dengan jenis-jenis diabetes lainnya tidak ada. Insulin diperlukan untuk mengendalikan diabetes yang berkaitan dengan malnutrisi.
b. Diabetes Gestasional
Sebagian wanita memiliki kadar gula darah yang tinggi selama hamil. Diabetes yang terjadi selama hamil disebut diabetes gestasional.
Pengobatan Terhadap Diabetes
Diabetes tidak dapat disembuhkan, tetapi bisa dikendalikan melalui beberapa cara. Hal ini terutama mencakup insulin, obat-obatan, kontrol makanan, dan olahraga. Pilihan-pilihan pengendalian terhadap diabetes bergantung pada jenis diabetes dan tingkat keparahannya.
Tujuan pengobatan diabetes, yaitu :
– Mencapai kadar gula darah terbaik yang tepat bagi Anda
– Memberikan keinginan dari gejala-gejala diabetes
– Menyeimbangkan makan, olahraga, dan obat-obatan atau insulin
– Mengurangi faktor resiko yang terkait dengan komplikasi, seperti obesitas, merokok, kolesterol tinggi, dan tekanan darah tinggi
– Memastikan pertumbuhan yang normal pada anak-anak dan orang dewasa muda yang mengidap diabetes
– Mempertahankan berat badan yang normal
– Mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis dan infeksi
– Mencegah, jika mungkin atau mendeteksi sedini mungkin dan menangani komplikasi kronis

Gejala Diabetes Basah

Gejala Diabetes Basah

Gejala Diabetes Basah – Banyak sekali gejala diabetes basah yang sering dialami oleh banyak orang, sebenarnya penyakit ini memang dibagi menjadi dua tipe ada tipe satu dan tipe dua tetapi dikalangan masyarakat lebih sering menyebutnya dengan penyakit diabetes kering dan diabetes basah. Penyakit diabetes merupakan penyakit yang disebabkan dari faktor makanan, penyakit ini merupakan jenis penyakit yang berbahaya diseluruh dunia bukan hanya diindonesia saja jadi anda harus selalu berhati-hati jangan sampai anda terkena penyakit yang berbahaya seperti ini. Jangan pernah anda mengabaikan penyakit ini karena banyak penderita diabetes yang akhirnya meninggal dengan penyakit ini, pola hidup yang tidak sehat dengan mengkomsumsi banyak makanan yang berlemak akan menimbulkan resiko terkena penyakit diabetes.
Penyakit gula darah atau diabetes memiliki gejala penyakit gula yang sering sekali muncul dan dapat dikenali karena ciri cirinya sangat umum.  Sebelum saya memberitahu anda apa saja ciri ciri penyakit gula saya akan memberitahu anda apa saja yang menjadi penyebab seseorang terkena penyakit ini agar anda senantiasa selalu menjada diri dan bisa melakukan pencegahan terhadap penyakit ini. Saya akan memberitahu anda apa saja gejala diabetes basah yang sering dilami, tetapi sebelum itu saya akan menjelaskan tentang penyakit diabetes basah dan diabetes kering pada anda semua agar anda mengetahui perbedaannya.

Penyakit Diabetes Tipe Satu Atau Diabetes Kering

Untuk penyakit diabetes tipe pertama biasanya banyak dialami oleh anak-anak dan remaja, jadi bagi anda yang masih remaja anda harus berhati-hati dengan penyakit ini jangan sampai umur anda yang masih muda terkena penyakit yang berbahaya seperti diabetes. Penyakit diabetes tipe pertama atau diabetes kering sudah tidak bisa memproduksi insulin didalam tubuhnya sehingga orang yang mengalami diabetes kering biasanya akan disuntik insulin setiap harinya.

Penyakit Diabetes Tipe Kedua Atau Diabetes Basah

Penyakit diabetes basah biasanya banyak dialami oleh orang-orang yang berusia lanjut diatas 40 tahun. Penyakit diabetes tipe kedua tidak perlu disuntik insulin setiap harinya karena untuk diabetes yang kedua masih bisa memproduksi insulin didalan tubuhnya tetapi biasanya utnuk diabetes basah akan mengakibatkan serangan stroke bagi penderitannya.
gula-darah
Gejala Diabetes Basah

Gejala klasik diabetes tipe 2 sama dengan diabetes tipe 1, yaitu:
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Sering merasa haus.
  • Rasa lapar yang bertambah.
Selain itu, gejala-gejala ini juga bisa menyertai gejala klasik, antara lain:
  • Turunnya berat badan.
  • Luka yang lambat sembuh atau sering mengalami infeksi.
  • Gatal-gatal.
  • Pandangan yang kabur.
  • Sering kelelahan.
Gejala-gejala ini timbul setelah gula darah meningkat di dalam darah selama beberapa waktu tertentu. Awalnya, gejala diabetes tipe 2 cenderung ringan. Oleh sebab itu, banyak penderitanya yang sering tidak menyadari bila mereka sudah mengidap penyakit ini.Bila kadar gula darah terus meningkat dan menjadi terlalu tinggi (hiperglikemia), maka akan timbul:
  • Mulut kering dan merasa sangat haus.
  • Sering buang air kecil.
  • Infeksi yang sering kambuh, contohnya sariawan serta infeksi kandung kemih.
  • Pingsan.
  • Tekanan darah rendah.
Diagnosis dan pengobatan diabetes secara dini dapat mengurangi risiko komplikasi. Konsultasikanlah kepada dokter secepatnya jika Anda mengalami gejala diabetes.

Beberapa Gejala Diabetes Basah Dan Kering adalah :

Sering Dehidrasi

Orang yang mengalami penyakit diabetes biasanya akan mudah dehidrasi karena haus, cairan yang ada didalam tubuh akan berpengaruh pada penderitanya sehingga kebanyakan dari penderita diabetes akan sering mengalami dehidrasi.

Sering Buang Air Kecil

Penderita diabetes biasanya akan mengalami buang air kecil yang terlalu sering terutama pada malam hari, buang air kecil yang terlalu sering bisa juga disebabkan karena penderita diabetes sering merasa dehidrasi jadi secara otomatis penderitanya akan banyak minum.

Sering Merasa Kelelahan

Biasanya orang yang menderita penyakit gula darah atau diabetes tubuhnya lebih lemah dibanding orang yang normal, ciri ciri penyakit gula yang satu ini paling sering dialami biasaya penderita akan merasa kelelahan jika melakukan berbagai aktivitas fisik.

Pandangan Mata Menjadi Kabur

Untuk gejala diabetes basah biasanya penderitanya akan mengalami pandanga atau penglihatan yang semakin lama akan semakin tidak jelas. Penglihatan yang menjadi tidak jelas disebabkan oleh kadar glukosa yang meningkat didalam tubuh dan kadar glukosa tersebut menjadi naik sehingga merusak pembulu darah dan akan membatasi cairan yang masuk kearea mata, tetapi gejala diabetes basah seperti ini bisa kembali normal apabila kadar gula didalam darah bisa kembali normal.

Masalah Kulit

Untuk gejala diabetes basah biasanya mengalami masalah kulit seperti gatal, kering dan iritasi. untuk diabetes tipe kedua atau diabetes basah biasanya jika penderita mengalami luka dibagian tubuhnya luka tersebut akan lama untuk sembuh bahkan luka tersebut bisa menyebar kemana-mana.

Gangguan Pada Gusi

Gejala diabetes basah yang lainnya adalah gangguan pada gusi, bagi pendertia diabetes biasanya sering menalami kerusakan pada gusinya contohnya gusi bisa menjadi merah, bisa mengalami pembengkakan, dan bisa mengalami iritasi.

Infeksi Jamur

Penderita diabetes sangat rentang terkena infeksi jamur hal ini disebabkan karena orang yang menderita sakit diabetes sistem kekebalan didalam tubuhnya menjadi menurun, jadi anda harus berhati-hati pada gejala diabetes basah yang satu ini.

Sering Mengantuk

Gejala diabetes basah yang selanjutnya adalah mengantuk, gejala ini sering sekali dialami oleh penderitanya, biasanya orang yang mengalami penyakit gula akan mudah mengantuk dan sering menguap.

Penyebab Diabetes Yang Sering Dialami :

  • Terlalu sering mengkomsumsi makanan yang berlemak
  • Kurangnya olahraga, bahkan tidak pernah melakukan olahraga
  • Sering sekali begadang setiap harinya
  • Sering merokok
  • Sering mengkomsumsi makanan dan minuman yang mengandung pemanis buatan
  • Kurangnnya serat didalam tubuh
Jika tidak ingin mengalami penyakit ini sebaiknya anda jangan melakukan hal-hal yang bisa menimbulkan resiko diabetes, diabetes sangat berbahaya jika sudah terkena tubuh seseorang walaupun ada berbagai pengobatan untuk diabetes tetapi akan lebih baik anda melakukan berbagai pencegahan. Salah satu kunci untuk mencegah penyakit ini adalah menjaga pola makan anda karena penyakit diabetes memang disebabkan oleh makanan jadi anda harus mencegahnya dengan melakukan pola makan yang sehat, kontrol jumlah gula yang masuk kedalam tubuh anda jangan sembarangan mengkomsumsi makanan dan minuman yang manis-manis apalagi yang mengandung pemanis buatan.
Nah, saya sudah memberikan informasi pada anda semua tentang gejala diabetes basah semoga informasi yang saya berikan bisa bermanfaat untuk anda semua. Terima kasih teman-teman sudah membaca artikel ini, jangan lupa untuk selalu menjaga pola makan anda agar anda semua terhindar dari penyakit diabetes.

Diabetes melitus tipe 2 ATau Basah

Diabetes melitus tipe 2 atau diabetes basah – yang dahulu disebut diabetes melitus tidak tergantung insulin (non-insulin-dependent diabetes melitus/NIDDM) atau diabetes onset dewasa – merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi dalam konteks resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif.[2] Penyakit diabetes melitus jenis ini merupakan kebalikan dari diabetes melitus tipe 1, yang mana terdapat defisiensi insulin mutlak akibat rusaknya sel islet di pankreas.[3] Gejala klasiknya antara lain haus berlebihan, sering berkemih, dan lapar terus-menerus. Diabetes tipe 2 berjumlah 90% dari seluruh kasus diabetes dan 10% sisanya terutama merupakan diabetes melitus tipe 1 dan diabetes gestasional. Kegemukan diduga merupakan penyebab utama diabetes tipe 2 pada orang yang secara genetik memiliki kecenderungan penyakit ini.

Diabetes tipe 2 pada mulanya diatasi dengan meningkatkan olahraga dan modifikasi diet. Bila kadar glukosa darah tidak turun melalui cara ini, pengobatan misalnya dengan metforminatau insulin, mungkin diperlukan. Pasien yang menggunakan insulin harus memeriksa kadar glukosa darah secara rutin.

Angka penderita diabetes selama 50 tahun terakhir meningkat pesat seiring dengan meningkatnya angka kegemukan. Pada tahun 2010, diperkirakan ada 285 juta orang mengalami penyakit ini, dibandingkan hanya ada 30 juta pasien pada tahun 1985. Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi akibat kadar glukosa darah tinggi antara lain penyakit jantung, stroke, retinopati diabetes yang mempengaruhi penglihatan mata, gagal ginjal yang memerlukan dialisis, dan kurangnya sirkulasi darah di bagian tungkai yang mengharuskan dilakukannya amputasi. Komplikasi akut berupa ketoasidosis, yang merupakan salah satu ciri diabetes tipe 1, jarang terjadi.[4] Namun pasien dapat mengalami koma hiperosmolar nonketotik.

Gejala-gejala Diabetes Tipe 2

Gejala diabetes tipe 2 merupakan gejala klasik, artinya ini merupakan gejala yang selalu ada di dalam diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2. Di antaranya:
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Sering merasa haus.
  • Rasa lapar yang bertambah sering.
Gejala lain yang bisa juga muncul pada diabetes tipe 2, antara lain:
  • Kelelahan.
  • Berkurangnya massa otot.
  • Turunnya berat badan.
  • Luka yang lambat sembuh atau sering mengalami infeksi.
  • Pandangan yang kabur.
Konsultasikanlah kepada dokter jika Anda merasakan gejala-gejala di atas sehingga diagnosis serta pengobatan dini dapat dilakukan. 

Penyebab Diabetes Tipe 2

Sel-sel dalam tubuh manusia membutuhkan energi dari gula (glukosa) untuk bisa berfungsi dengan normal. Yang biasanya mengendalikan gula dalam darah adalah hormon insulin. Insulin membantu sel mengambil dan menggunakan glukosa dari aliran darah. Jika tubuh kekurangan insulin yang relatif, artinya kadar gula darah sangat banyak akibat asupan berlebihan sehingga kadar insulin tampak berkurang; atau muncul resistensi terhadap insulin pada sel-sel tubuh, kadar gula (glukosa) darah akan meningkat drastis. Inilah yang memicu dan menjadi penyebab penyakit diabetes (diabetes melitus).

Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada orang-orang yang memiliki berat badan berlebih dan kurang gerak fisik. Biasanya pola hidup yang tidak aktif banyak memicu terjadinya penyakit ini. Itulah sebabnya diabetes tipe 2 sejak dahulu biasa ditemukan pada orang-orang dewasa. Tapi sekarang, jumlah penderita diabetes tipe 2 pada anak-anak juga mulai meningkat.

Pengobatan

Tersedia beberapa kelas obat anti-diabetes. Metformin umumnya dianjurkan sebagai terapi lini pertama karena terdapat sejumlah bukti bahwa obat ini menurunkan mortalitas.[7] Obat oral kedua dari kelas yang berbeda dapat digunakan apabila metformin belum cukup.[46] Kelas obat lainnya termasuk: sulfonylurea, nonsulfonylurea secretagogue, penghambat alpha glucosidase, thiazolidinedione, glucagon-like peptide-1 analog, dan penghambat dipeptidyl peptidase-4.[7][47] Metformin sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal dan hati yang berat.[5] Pemberian injeksi insulin dapat merupakan tambahan dari pengobatan oral atau juga digunakan tersendiri.[7]
Umumnya sebagian besar pasien pada awalnya tidak membutuhkan insulin.[3] Apabila digunakan, insulin kerja panjang biasanya ditambahkan pada malam hari, dengan pengobatan oral tetap dilanjutkan.[5][7] Dosis kemudian ditingkatkan untuk memberi pengaruh (kadar glukosa darah terkontrol).[7] Apabila insulin yang diberikan malam hari tidak cukup, insulin yang diberikan dua kali sehari dapat memberikan kontrol yang lebih baik.[5] Insulin yang bekerja lama, glargine dan detemir, tidak tampak lebih baik daripada neutral protamine Hagedorn insulin (NPH) tetapi mempunyai biaya pembuatan yang jauh lebih besar, seperti pada tahun 2010, yang tidak hemat biaya.[48] Untuk pasien yang sedang hamil biasanya insulin merupakan pilihan utama.[5]

Pengobatan dan Komplikasi Diabetes Tipe 2

Meski diabetes tidak bisa disembuhkan, diagnosis dini sangat penting agar diabetes dapat segera ditangani. Pendeteksian dini memungkinkan kadar gula darah penderita diabetes untuk dikendalikan.
Tujuan pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan keseimbangan kadar gula darah dan mengendalikan gejala untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Mengubah gaya hidup juga bisa mengendalikan gejala-gejala diabetes tipe 2, misalnya dengan menerapkan pola makan sehat, teratur berolahraga, membatasi konsumsi minuman beralkohol, serta berhenti merokok.

Jenis diabetes ini merupakan penyakit yang progresif. Karena itu, penderita diabetes tipe 2 umumnya akan membutuhkan obat-obatan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darahnya.

Diabetes dapat mengakibatkan sejumlah komplikasi jika diabaikan. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh.

Pengertian Diabetes Tipe 1 Atau Kering

Pengertian Diabetes Tipe 1 Atau Kering

Diabetes tipe 1 adalah penyakit kronis (menahun) yang terjadi ketika pankreas (kelenjar ludah perut) tidak memproduksi cukup insulin, atau ketika tubuh tidak secara efektif  menggunakan insulin. Sedangkan dm tipe 1 sendiri termasuk jenis diabetes dengan produksi insulin yang rendah. Oleh karena itu dm 1 disebut juga  diabetes ketergantungan insulin, atau dikenal dengan istilah penyakit autoimun diabetes dengan penyebab yang belum diketahui pasti.
alodokter-diabetes-tipe1
Kadar gula dalam darah biasanya dikendalikan oleh hormon insulin. Jika tubuh kurang insulin, kadar gula darah akan meningkat drastis akibat terjadinya penumpukan, ini yang disebut hiperglikemia. Inilah yang terjadi saat seseorang menderita diabetes mellitus tipe 1.
Penyebab kurangnya produksi insulin oleh pankreas pada penderita dm tipe 1 belum diketahui hingga saat ini sehingga belum dapat disimpulkan cara pencegahannya. Diabetes tipe ini dapat timbul pada usia berapa pun, umumnya menyerang pasien di bawah usia 40 tahun, khususnya anak-anak (childhood-onset diabetic). Terkadang dikenal dengan istilah diabetes ‘remaja’

Penderita Diabetes di Indonesia

Pada tahun 2017, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai 11 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari Federasi Diabetes Internasional). Namun, hanya sekitar separuh dari mereka yang menyadari kondisinya.Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi tinggi untuk diabetes tipe 1. Pada tahun 2010, diperkirakan ada sekitar 113.000 anak di bawah 15 tahun yang mengidap dm tipe 1 dengan perkiraan 18.000 kasus baru pada setiap tahunnya.

Gejala Umum dan Komplikasi Penderita Diabetes Tipe 1

Gejala umum diabetes pada awal penyakit, yang juga dikenal dengan gejala klasik di kalangan medis, adalah sering kencing (polyuria), sering haus (polydipsia) dan sering lapar (polyphagia). Gejala-gejala ini akan berkembang dan memburuk seiring dengan tidak terkontrolnya kadar gula yang sangat tinggi dalam darah (hiperglikemia) sehingga merusak jaringan dan organ-organ tubuh, dan berkomplikasi.Tanpa insulin, gula dalam darah tidak dapat masuk dan digunakan oleh sel-sel tubuh. Akhirnya tubuh akan mengolah lemak dan otot menjadi energi sehingga menyebabkan penurunan berat badan. Ini dapat mengakibatkan kondisi akut yang disebut ketoasidosis diabetik , yaitu kondisi di mana darah menjadi terlalu asam dan terjadinya dehidrasi yang membahayakan.
Kadar glukosa darah yang tinggi juga bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Karena itu, diabetes bisa mengakibatkan sejumlah komplikasi jika tidak dikendalikan dengan baik. Peningkatan kadar gula darah yang tidak signifikan dan tidak memicu gejala pun bisa mengakibatkan kerusakan bila terjadi dalam  jangka panjang.

Diagnosa dan Langkah Pengobatan Diabetes Tipe 1

Diabetes ketergantungan insulin atau tipe 1 termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dikendalikan. Diagnosis diabetes sejak dini sangat penting agar pengobatan bisa segera dilakukan sehingga kadar gula darah penderita yang tinggi bisa dikendalikan. Pengobatan diabetes bertujuan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darah dan mengendalikan gejala untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.Organ pankreas dalam tubuh penderita dm tipe 1 tidak memproduksi insulin lagi sehingga mereka harus menerima suplai insulin dari luar tubuh secara rutin. Mereka juga dituntut untuk belajar menyesuaikan dosisnya dengan makanan yang dikonsumsi, kadar gula darah, dan aktivitas yang dilakukan.
Proses penyesuaian tersebut harus dilakukan secara bertahap. Beberapa jenis insulin yang bisa digunakan meliputi:
  • Insulin kerja panjang yang dapat bertahan satu hari.
  • Insulin kerja singkat yang dapat bertahan maksimal delapan jam.
  • Insulin kerja cepat yang tidak bertahan lama, tapi bereaksi cepat.
Cara pengobatan untuk penderita diabetes bisa menggunakan kombinasi dari jenis-jenis insulin di atas.Transplantasi sel-sel pankreas yang memproduksi insulin (sel islet) juga mungkin dapat menolong sebagian penderita diabetes tipe 1. Dalam proses ini, sel islet dari yang diambil dari donor yang sudah meninggal akan dimasukkan ke pankreas penderita diabetes tipe 1.
Transplantasi islet memang efektif untuk mengurangi risiko serangan hipoglikemia parah. Hipoglikemia adalah keadaan di mana kadar gula darah jatuh terlalu rendah. Kondisi ini sama berbahayanya dengan kadar gula darah yang terlalu tinggi. Tetapi, walau ada negara-negara yang sudah menerapkan transplantasi islet, banyak juga penderita diabetes yang enggan menjalaninya karena risiko yang cukup tinggi.
Pola makan sehat dan seimbang serta olahraga teratur terbukti dapat menurunkan kadar gula darah bagi penderita diabetes. Berhenti merokok juga dapat mengurangi risiko komplikasi penyakit jantung.

Buah Untuk Penderita Diabetes Yang Aman

Buah Untuk Penderita Diabetes Yang Aman Diabetes merupakan sebuah penyakit metabolik, dimana penderitanya memiliki kadar gula yang...