Rabu, 28 Juni 2017

Diabetes melitus tipe 2 ATau Basah

Diabetes melitus tipe 2 atau diabetes basah – yang dahulu disebut diabetes melitus tidak tergantung insulin (non-insulin-dependent diabetes melitus/NIDDM) atau diabetes onset dewasa – merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi dalam konteks resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif.[2] Penyakit diabetes melitus jenis ini merupakan kebalikan dari diabetes melitus tipe 1, yang mana terdapat defisiensi insulin mutlak akibat rusaknya sel islet di pankreas.[3] Gejala klasiknya antara lain haus berlebihan, sering berkemih, dan lapar terus-menerus. Diabetes tipe 2 berjumlah 90% dari seluruh kasus diabetes dan 10% sisanya terutama merupakan diabetes melitus tipe 1 dan diabetes gestasional. Kegemukan diduga merupakan penyebab utama diabetes tipe 2 pada orang yang secara genetik memiliki kecenderungan penyakit ini.

Diabetes tipe 2 pada mulanya diatasi dengan meningkatkan olahraga dan modifikasi diet. Bila kadar glukosa darah tidak turun melalui cara ini, pengobatan misalnya dengan metforminatau insulin, mungkin diperlukan. Pasien yang menggunakan insulin harus memeriksa kadar glukosa darah secara rutin.

Angka penderita diabetes selama 50 tahun terakhir meningkat pesat seiring dengan meningkatnya angka kegemukan. Pada tahun 2010, diperkirakan ada 285 juta orang mengalami penyakit ini, dibandingkan hanya ada 30 juta pasien pada tahun 1985. Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi akibat kadar glukosa darah tinggi antara lain penyakit jantung, stroke, retinopati diabetes yang mempengaruhi penglihatan mata, gagal ginjal yang memerlukan dialisis, dan kurangnya sirkulasi darah di bagian tungkai yang mengharuskan dilakukannya amputasi. Komplikasi akut berupa ketoasidosis, yang merupakan salah satu ciri diabetes tipe 1, jarang terjadi.[4] Namun pasien dapat mengalami koma hiperosmolar nonketotik.

Gejala-gejala Diabetes Tipe 2

Gejala diabetes tipe 2 merupakan gejala klasik, artinya ini merupakan gejala yang selalu ada di dalam diabetes, baik tipe 1 maupun tipe 2. Di antaranya:
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Sering merasa haus.
  • Rasa lapar yang bertambah sering.
Gejala lain yang bisa juga muncul pada diabetes tipe 2, antara lain:
  • Kelelahan.
  • Berkurangnya massa otot.
  • Turunnya berat badan.
  • Luka yang lambat sembuh atau sering mengalami infeksi.
  • Pandangan yang kabur.
Konsultasikanlah kepada dokter jika Anda merasakan gejala-gejala di atas sehingga diagnosis serta pengobatan dini dapat dilakukan. 

Penyebab Diabetes Tipe 2

Sel-sel dalam tubuh manusia membutuhkan energi dari gula (glukosa) untuk bisa berfungsi dengan normal. Yang biasanya mengendalikan gula dalam darah adalah hormon insulin. Insulin membantu sel mengambil dan menggunakan glukosa dari aliran darah. Jika tubuh kekurangan insulin yang relatif, artinya kadar gula darah sangat banyak akibat asupan berlebihan sehingga kadar insulin tampak berkurang; atau muncul resistensi terhadap insulin pada sel-sel tubuh, kadar gula (glukosa) darah akan meningkat drastis. Inilah yang memicu dan menjadi penyebab penyakit diabetes (diabetes melitus).

Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada orang-orang yang memiliki berat badan berlebih dan kurang gerak fisik. Biasanya pola hidup yang tidak aktif banyak memicu terjadinya penyakit ini. Itulah sebabnya diabetes tipe 2 sejak dahulu biasa ditemukan pada orang-orang dewasa. Tapi sekarang, jumlah penderita diabetes tipe 2 pada anak-anak juga mulai meningkat.

Pengobatan

Tersedia beberapa kelas obat anti-diabetes. Metformin umumnya dianjurkan sebagai terapi lini pertama karena terdapat sejumlah bukti bahwa obat ini menurunkan mortalitas.[7] Obat oral kedua dari kelas yang berbeda dapat digunakan apabila metformin belum cukup.[46] Kelas obat lainnya termasuk: sulfonylurea, nonsulfonylurea secretagogue, penghambat alpha glucosidase, thiazolidinedione, glucagon-like peptide-1 analog, dan penghambat dipeptidyl peptidase-4.[7][47] Metformin sebaiknya tidak digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal dan hati yang berat.[5] Pemberian injeksi insulin dapat merupakan tambahan dari pengobatan oral atau juga digunakan tersendiri.[7]
Umumnya sebagian besar pasien pada awalnya tidak membutuhkan insulin.[3] Apabila digunakan, insulin kerja panjang biasanya ditambahkan pada malam hari, dengan pengobatan oral tetap dilanjutkan.[5][7] Dosis kemudian ditingkatkan untuk memberi pengaruh (kadar glukosa darah terkontrol).[7] Apabila insulin yang diberikan malam hari tidak cukup, insulin yang diberikan dua kali sehari dapat memberikan kontrol yang lebih baik.[5] Insulin yang bekerja lama, glargine dan detemir, tidak tampak lebih baik daripada neutral protamine Hagedorn insulin (NPH) tetapi mempunyai biaya pembuatan yang jauh lebih besar, seperti pada tahun 2010, yang tidak hemat biaya.[48] Untuk pasien yang sedang hamil biasanya insulin merupakan pilihan utama.[5]

Pengobatan dan Komplikasi Diabetes Tipe 2

Meski diabetes tidak bisa disembuhkan, diagnosis dini sangat penting agar diabetes dapat segera ditangani. Pendeteksian dini memungkinkan kadar gula darah penderita diabetes untuk dikendalikan.
Tujuan pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan keseimbangan kadar gula darah dan mengendalikan gejala untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Mengubah gaya hidup juga bisa mengendalikan gejala-gejala diabetes tipe 2, misalnya dengan menerapkan pola makan sehat, teratur berolahraga, membatasi konsumsi minuman beralkohol, serta berhenti merokok.

Jenis diabetes ini merupakan penyakit yang progresif. Karena itu, penderita diabetes tipe 2 umumnya akan membutuhkan obat-obatan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darahnya.

Diabetes dapat mengakibatkan sejumlah komplikasi jika diabaikan. Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh.

Pengertian Diabetes Tipe 1 Atau Kering

Pengertian Diabetes Tipe 1 Atau Kering

Diabetes tipe 1 adalah penyakit kronis (menahun) yang terjadi ketika pankreas (kelenjar ludah perut) tidak memproduksi cukup insulin, atau ketika tubuh tidak secara efektif  menggunakan insulin. Sedangkan dm tipe 1 sendiri termasuk jenis diabetes dengan produksi insulin yang rendah. Oleh karena itu dm 1 disebut juga  diabetes ketergantungan insulin, atau dikenal dengan istilah penyakit autoimun diabetes dengan penyebab yang belum diketahui pasti.
alodokter-diabetes-tipe1
Kadar gula dalam darah biasanya dikendalikan oleh hormon insulin. Jika tubuh kurang insulin, kadar gula darah akan meningkat drastis akibat terjadinya penumpukan, ini yang disebut hiperglikemia. Inilah yang terjadi saat seseorang menderita diabetes mellitus tipe 1.
Penyebab kurangnya produksi insulin oleh pankreas pada penderita dm tipe 1 belum diketahui hingga saat ini sehingga belum dapat disimpulkan cara pencegahannya. Diabetes tipe ini dapat timbul pada usia berapa pun, umumnya menyerang pasien di bawah usia 40 tahun, khususnya anak-anak (childhood-onset diabetic). Terkadang dikenal dengan istilah diabetes ‘remaja’

Penderita Diabetes di Indonesia

Pada tahun 2017, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai 11 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari Federasi Diabetes Internasional). Namun, hanya sekitar separuh dari mereka yang menyadari kondisinya.Asia Tenggara merupakan salah satu wilayah dengan prevalensi tinggi untuk diabetes tipe 1. Pada tahun 2010, diperkirakan ada sekitar 113.000 anak di bawah 15 tahun yang mengidap dm tipe 1 dengan perkiraan 18.000 kasus baru pada setiap tahunnya.

Gejala Umum dan Komplikasi Penderita Diabetes Tipe 1

Gejala umum diabetes pada awal penyakit, yang juga dikenal dengan gejala klasik di kalangan medis, adalah sering kencing (polyuria), sering haus (polydipsia) dan sering lapar (polyphagia). Gejala-gejala ini akan berkembang dan memburuk seiring dengan tidak terkontrolnya kadar gula yang sangat tinggi dalam darah (hiperglikemia) sehingga merusak jaringan dan organ-organ tubuh, dan berkomplikasi.Tanpa insulin, gula dalam darah tidak dapat masuk dan digunakan oleh sel-sel tubuh. Akhirnya tubuh akan mengolah lemak dan otot menjadi energi sehingga menyebabkan penurunan berat badan. Ini dapat mengakibatkan kondisi akut yang disebut ketoasidosis diabetik , yaitu kondisi di mana darah menjadi terlalu asam dan terjadinya dehidrasi yang membahayakan.
Kadar glukosa darah yang tinggi juga bisa menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah, saraf, dan organ tubuh. Karena itu, diabetes bisa mengakibatkan sejumlah komplikasi jika tidak dikendalikan dengan baik. Peningkatan kadar gula darah yang tidak signifikan dan tidak memicu gejala pun bisa mengakibatkan kerusakan bila terjadi dalam  jangka panjang.

Diagnosa dan Langkah Pengobatan Diabetes Tipe 1

Diabetes ketergantungan insulin atau tipe 1 termasuk penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan hanya bisa dikendalikan. Diagnosis diabetes sejak dini sangat penting agar pengobatan bisa segera dilakukan sehingga kadar gula darah penderita yang tinggi bisa dikendalikan. Pengobatan diabetes bertujuan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darah dan mengendalikan gejala untuk mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.Organ pankreas dalam tubuh penderita dm tipe 1 tidak memproduksi insulin lagi sehingga mereka harus menerima suplai insulin dari luar tubuh secara rutin. Mereka juga dituntut untuk belajar menyesuaikan dosisnya dengan makanan yang dikonsumsi, kadar gula darah, dan aktivitas yang dilakukan.
Proses penyesuaian tersebut harus dilakukan secara bertahap. Beberapa jenis insulin yang bisa digunakan meliputi:
  • Insulin kerja panjang yang dapat bertahan satu hari.
  • Insulin kerja singkat yang dapat bertahan maksimal delapan jam.
  • Insulin kerja cepat yang tidak bertahan lama, tapi bereaksi cepat.
Cara pengobatan untuk penderita diabetes bisa menggunakan kombinasi dari jenis-jenis insulin di atas.Transplantasi sel-sel pankreas yang memproduksi insulin (sel islet) juga mungkin dapat menolong sebagian penderita diabetes tipe 1. Dalam proses ini, sel islet dari yang diambil dari donor yang sudah meninggal akan dimasukkan ke pankreas penderita diabetes tipe 1.
Transplantasi islet memang efektif untuk mengurangi risiko serangan hipoglikemia parah. Hipoglikemia adalah keadaan di mana kadar gula darah jatuh terlalu rendah. Kondisi ini sama berbahayanya dengan kadar gula darah yang terlalu tinggi. Tetapi, walau ada negara-negara yang sudah menerapkan transplantasi islet, banyak juga penderita diabetes yang enggan menjalaninya karena risiko yang cukup tinggi.
Pola makan sehat dan seimbang serta olahraga teratur terbukti dapat menurunkan kadar gula darah bagi penderita diabetes. Berhenti merokok juga dapat mengurangi risiko komplikasi penyakit jantung.

Diabetes Melitus adalah

Diabetes (diabetes melitus) adalah penyakit jangka panjang atau kronis yang ditandai dengan kadar gula darah (glukosa) yang jauh di atas normal. Glukosa sangat penting bagi kesehatan kita karena merupakan sumber energi utama bagi otak maupun sel-sel yang membentuk otot serta jaringan pada tubuh kita.
Penyakit ini memiliki dua jenis utama, yaitu diabetes tipe 1atau diabetes kering dan tipe 2 atau diabetes basah. Selain itu ada juga jenis diabetes basah dan kering.
alodokter-diabetes
Indonesia sendiri termasuk dalam 10 negara terbesar penderita diabetes. Pada tahun 2013, penderita diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 8,5 juta orang dengan rentang usia 20-79 tahun (dikutip dari Federasi Diabetes Internasional). Tetapi kurang dari 50% dari mereka yang menyadarinya.

Apa Saja Gejala Diabetes?

Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui gejala awal diabetes. Baik bagi yang berisiko tinggi maupun bagi yang merasa sehat dan tidak memiliki riwayat atau potensi mengidap diabetes.Diabetes tipe 1 dapat berkembang dengan cepat dalam beberapa minggu, bahkan beberapa hari saja. Sedangkan banyak penderita diabetes tipe 2 yang tidak menyadari bahwa mereka telah mengidap diabetes selama bertahun-tahun karena gejalanya cenderung tidak spesifik. Beberapa gejala diabetes tipe 1 dan tipe 2 meliputi:
  • Sering merasa haus.
  • Sering buang air kecil, terutama di malam hari.
  • Rasa lapar yang ekstrem.
  • Turunnya berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Berkurangnya massa otot.
  • Terdapat keton dalam air seni. Keton adalah produk sampingan dari metabolisme otot dan lemak yang terjadi ketika produksi insulin tidak cukup.
  • Kelelahan.
  • Pandangan yang kabur.
  • Luka yang lama sembuh.
  • Sering mengalami infeksi, misalnya pada gusi, kulit, vagina, atau saluran kemih.
Apabila Anda mengalami gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri Anda ke dokter. Pendeteksian sedini mungkin memungkinkan kita untuk mencegah bertambah parahnya kondisi diabetes kita.

Pengaruh Hormon Insulin dan Diabetes

Seluruh sel dalam tubuh manusia membutuhkan glukosa agar dapat bekerja dengan normal. Kadar zat gula dalam darah biasanya dikendalikan oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pankreas, yaitu organ yang terletak di belakang lambung.Tetapi organ pankreas milik penderita diabetes tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Tanpa insulin, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap dan mengolah glukosa menjadi energi.

Sekilas Tentang Diabetes Tipe 1

Penderita diabetes tipe 1 sangat bergantung kepada insulin karena sistem kekebalan tubuh penderita akan menyerang dan menghancurkan sel-sel pankreas yang memproduksi insulin. Hal ini memicu peningkatan kadar glukosa sehingga terjadi kerusakan pada organ-organ tubuh. Hingga saat ini, penyebab di balik diabetes tipe 1 belum diketahui secara pasti.Penderita jenis diabetes ini umumnya berusia di bawah 40 tahun, biasanya muncul pada masa remaja atau anak-anak. Karena itu, diabetes tipe 1 juga disebut sebagai diabetes anak-anak.
Diabetes tipe 1 lebih jarang terjadi dibandingkan dengan diabetes tipe 2. Di antara 10 orang penderita diabetes, diperkirakan hanya sekitar 1 orang yang mengidap tipe 1.
Selain harus menerima suntikan insulin setiap hari, penderita diabetes tipe 1 juga disarankan untuk menjaga kadar glukosa dalam darah agar tetap seimbang. Misalnya dengan menerapkan pola makan sehat dan menjalani tes darah secara rutin.

Sekilas Tentang Diabetes Tipe 2

Diabetes tipe 2 merupakan jenis diabetes yang lebih umum terjadi. Sekitar 90 persen penderita diabetes di dunia mengidap diabetes tipe ini.Diabetes jenis ini disebabkan oleh kurangnya produksi insulin dalam tubuh atau sel-sel tubuh yang menjadi kurang sensitif terhadap insulin. Kekurangpekaan sel-sel tubuh ini dikenal dengan istilah resistensi terhadap insulin.
Gejala pada penderita diabetes tipe ini biasanya dapat dikendalikan dengan pola makan sehat dan memantau kadar glukosa dalam darah. Tetapi, tetaplah waspada karena penyakit ini akan terus berkembang dalam tubuh dan lambat laun Anda akan membutuhkan langkah pengobatan.
Diabetes tipe 2 sering dihubungkan dengan obesitas. Memang tidak semua orang yang mengidap obesitas akan otomatis menderita diabetes tipe 2. Tetapi, makin tinggi indeks massa tubuh seseorang, maka risiko diabetes tipe ini juga meningkat. Diabetes akibat obesitas umumnya menyerang para manula.

Risiko Diabetes Kehamilan

Diabetes juga kerap menyerang para ibu hamil. Terdapat sebagian wanita yang memiliki kadar glukosa dalam darah yang sangat tinggi selama masa kehamilan, sehingga tubuh mereka tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk menyerapnya. Diabetes yang dikenal sebagai diabetes kehamilan ini dapat terjadi pada sekitar 15 hingga 18 orang di antara 100 wanita yang hamil.Penderita diabetes tipe 1 yang hamil juga akan memiliki risiko tinggi karena dapat berdampak pada ibu serta janin. Sangatlah penting bagi penderita diabetes yang sedang hamil untuk menjaga keseimbangan kadar gula darahnya.
Ibu yang sedang hamil sebaiknya lebih cermat memantau kadar gula darah pada trimester kedua (minggu 14-26). Pada masa itulah diabetes kehamilan umumnya berkembang dan kemudian hilang setelah melahirkan. Meski demikian, risiko diabetes tipe 2 pada wanita yang pernah mengalami diabetes kehamilan adalah sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan populasi pada umumnya.

Buah Untuk Penderita Diabetes Yang Aman

Buah Untuk Penderita Diabetes Yang Aman Diabetes merupakan sebuah penyakit metabolik, dimana penderitanya memiliki kadar gula yang...